Rabu, 05 Desember 2012

A. JUDUL
RANCANG  SISTEM INFORMASI PEMESANAN TIKET BIOSKOP VIA ONLINE


B. LATAR BELAKANG MASALAH
Di dalam industri perfilman, baik luar maupun dalam negeri terus memproduksi film layar lebar, maka tidak heran jika begitu banyak orang yang melakukan berbagai cara agar dapat menonton film yang sedang diputar. Salah satunya adalah dengan menyaksikannya di bioskop. Namun, tidak selalu mudah untuk menonton film di bioskop. Ada beberapa kendala yang seringkali terjadi. Misalnya harus mengantri sangat lama sebelum mendapatkan tiket, atau bahkan tidak mendapatkan tiket sama sekali.

Oleh karena itu, melalui sistem pemesanan tiket secara online ini diharapkan dapat membantu memudahkan calon penonton untuk melakukan pemesanan tiket bioskop secara online melalui internet di mana saja dan kapan saja, dan juga memberikan informasi mengenai jadwal pemutaran film dan jumlah tiket yang masih tersisa.

C. BATASAN
Masalah dibatasi hanya sampai kepada pembahasan mengenai pembuatan aplikasi pemesanan tiket bioskop

D. TUJUAN
 1. Untuk membuat sebuah program  pemesanan tiket bioskop yang digunakan untuk   mengakses informasi film-film yang sedang ditayangkan sekaligus memesan tiket pada bioskop tersebut.
2. Untuk meningkatkan fasilitas kenyamanan dan kemudahan dalam
pembelian tiket bioskop secara online kepada konsumen.

Kamis, 25 Oktober 2012

Gambaran Umum Masyarakat Sasaran

 SLB (sekolah luar Biasa) biasanya terdiri dari beberapa jenis ketunaan seperti :

1.   Tuna netra
Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium).

2. Tuna rungu
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah:

    Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB),
    Gangguan pendengaran ringan(41-55dB),
    Gangguan pendengaran sedang(56-70dB),
    Gangguan pendengaran berat(71-90dB),
    Gangguan pendengaran ekstrem/tuli(di atas 91dB).

Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan  individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.

3. Tunagrahita
Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi prilaku yang muncul dalam masa perkembangan. klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan IQ.
     Tunagrahita ringan (IQ : 51-70),
    Tunagrahita sedang (IQ : 36-51),
    Tunagrahita berat (IQ : 20-35),
    Tunagrahita sangat berat (IQ dibawah 20).

Pembelajaran bagi individu tunagrahita lebih di titik beratkan pada kemampuan bina diri dan sosialisasi.
   
4. Tunadaksa
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuromuskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
   
5. Tunalaras
Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.   

6. Tunaganda
Yang disebut anak tunaganda adalah anak yang memiliki kombinasi kelainan (baik dua jenis kelainan atau lebih) yang menyebabkan adanya masalah pendidikan yang serius ,sehingga dia tidak hanya dapat diatas dengan suatu program pendidikan khusus untuk satu kelainan saja, melaiankan harus didekati dengan variasi program pendidikan sesuai kelainan yang dimiliki.

Anak tunaganda biasanya menunjukkan fenomena-fenomena perlaku di antaranya :
1. Kurang komunikasi atau sama sekali tidak dapat berkomunikasi.
2. Perkembangan motorik dan fisiknya terlambat.
3. Seringkali menunjukkan perilaku yang aneh dan tidak bertujuan.
4. Kurang dalam keterampilan menolong diri sendiri.
5. Jarang berperilaku dan berinteraksi yang sifatnya konstruktif.
6. Kecenderungan lupa akan keterampilan keterampilan yang sudah dikuasai.
7. Memiliki masalah dalam mengeneralisasikan keterampilan keterampialan dari suatu situasi ke        situasi lainnya.   


Pelayanan jenis ketunaan pada suatu SLB sangat tergantung pada studi kelayakan yang antara lain mengungkapkan kebutuhan jumlah dan jenis ketunaan tertentu yang harus dilayani di lingkungan tersebut.
Kurikulum 1994 bagi Sekolah Luar Biasa seperti semua sekolah umum lainnya secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu Program Umum dan Program Ketrampilan. Program Umum berlaku untuk semua jenis sekolah, terdiri dari 4 mata pelajaran sedangkan Program Ketrampilan jumlahnya bervariasi disesuaikan dengan kebutuhan pada tiap jenis ketunaan. Mata pelajaran yang ada, ditinjau dari segi kegiatannya terdiri dari teori dan atau kegiatan praktek. Pokok bahasan dari tiap mata pelajaran, ada yang bersifat teoritis saja dan lainnya mencakup baik teori murni maupun praktek. Untuk pokok bahasan yang bersifat praktek, bagaimanapun juga selalu diawali dengan penjelasan teori pendukungnya.Dalam proses kegiatan belajar mengajar, sejalan dengan proses pemberian ilmu pengetahuan dan latihan keterampilan, siswa juga dituntut/diharapkan untuk memiliki sikap atau etos kerja yang dituntut dalam masyarakat dan dunia kerja. Jenis mata pelajaran serta banyaknya jam pelajaran perminggunya untuk tiap program studi tertuang dalam struktur program studi pada Lampiran Jenis Mata Pelajaran.


 Organisasi Sekolah

Organisasi sekolah luar biasa secara umum tersusun dari unsur:
:: Kepala Sekolah
:: Beberapa Wakil Kepala Sekolah
:: Unit Tata Usaha
:: Beberapa Ketua Jurusan/Instansi
:: Guru


Siswa
Jumlah siswa per kelas dalam jajaran sekolah luar biasa bervariasi banyaknya. Sekolah luar biasa direncanakan untuk dapat menampung maksimal 18 siswa per kelas.

Sarana dan Prasarana Pendidikan
1. Sarana Pendidikan

Sarana pendidikan yang dibutuhkan untuk operasional Sekolah Luar Biasa. terdiri dari:
:: Lokasi
:: Areal
:: Utilitas dan Infrastruktur
:: Bangunan
:: Peralatan
:: Perabot
:: Buku
:: Bahan

Bangunan yang dibutuhkan secara umum dapat dikelompokkan menjadi
:: bangunan administrasi,
:: bangunan untuk kegiatan belajar mengajar dan
:: bangunan untuk mewadahi kegiatan penunjang kegiatan belajar mengajar maupun administrasi.

Gedung Bangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunanetra ada 3 kelompok terdiri dari:
1. Unit Sekolah
2. Unit Asrama
3. Unit Bangunan Hunian

Gedung Bangunan Sekolah LuarBiasa (SLB) Tunarungu terdiri dari :
1. Ruang Belajar
2. Ruang Penunjang
3. Unit Bangunan Hunian

Gedung Bangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunagrahita terdiri dari:
1. Unit Sekolah
2. Unit Asrama
3. Unit Bangunan Hunian

Perabot Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunadaksa terdiri dari :
1. Unit Sekolah
2. Unit Asrama

Perabot Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunalaras terdiri dari:
1. Unit Sekolah
2. Unit ruang perawatan

Perabot untuk Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunaganda terdiri dari :
1. Unit Sekolah
2. Unit Asrama

Alat yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dari segi pengoperasiannya dapat dikelompokkan menjadi:
1. Alat Tangan
2. Alat tangan Bermesin
3. Mesin Ringan
4. Mesin

Media pendidikan yang paling sering digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas adalah OHP. Jenis media lainnya akan digunakan adalah :

1. TV.
2. Komputer.
3. Slide Proyektor.
4. Multi Media.
Jenis media tersebut diatas digunakan di ruang AVA, yang merupakan bagian dari perpustakaan.

2. Prasarana Pendidikan

Untuk mengoperasikan sarana tersebut diatas, dibutuhkan fasilitas pendukung atau infra struktur yang terdiri dari :
1. Sumber tenaga listrik 1 fasa dan 3 fasa,
2. Sumber air bersih .
3. Tempat bermain anak.
4. Lapangan olahraga.
5. Lapangan upacara .
6. Jalan komplek
7. Sanitasi, Dan sebagainya

Lokasi Sekolah Luar Biasa.

Terkait dengan program pendidikan luar biasa yang lebih berorientasi pada dunia kerja, maka telah diambil suatu kebijakan bahwa lokasi untuk Sekolah Luar Biasa harus berada pada atau mendekati wilayah yang cakupan pelayanan terhadap kebutuhan anak anak berkebutuhan khusus cukup besar dan pencapaiannya relatif mudah.
Hal ini bertujuan untuk lebih memudahkan pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat akan anak anak berkebutuhan khusus. 

Selasa, 23 Oktober 2012

Revisi Tugas Penulisan Karya ilmiah

Nama Kelompok :
 :: Ricky Putti Ginting       (562010031)
 :: Andrey Irvan                 (562010017)
 :: Florentina Br Pinem      (562010030)

Jenis PKM : Pengabdian Masyarakat

A. Judul : Pemanfaatan media multimedia untuk membantu pembelajaran Matematika di SLB (sekolah luar biasa)

B. latar Belakang :
    SLB (sekolah luar biasa) adalah salah satu sekolah yang dibuat untuk anak anak yang berkebutuhan khusus. Tujuan dari sekolah luar biasa ini adalah untuk membantu anak anak yang menyandang kelainan fisik atau mental agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai pribadi ataupun anggota masyarakat dalam hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam  sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau dapat mengikuti pendidikan lanjutan. Metode pembelajaran yang digunakan pun tidak jauh beda dengan metode pembelajaran di sekolah umum/ pendidikan formal lainnya.
    Multimedia adalah kumpulan dari beberapa media, multimedia biasanya digunakan untuk membuat animasi, game dan lain sebagainya. Multimedia juga sering digunakan oleh orang orang untuk membantu proses belajar mengajar di kelas, seperti ketika dosen/ guru menjelaskan dibantu dengan adanya power point sehingga mahasisw apun idak akan merasakan kejenuhan karna hanya mendengarkan  dosen berbicara, ada media yang dilihat sehingga tidak menimbulkan kebosanan. contoh lainnya pada anak TK ketika guru sedang mengajar dibantu dengan menunjukkan gambar sehinggan anak anak pun tidak merasa bosan dan mereka pun lebih bisa mengerti karena dapat melihat langsung apa yang dimaksud oleh gurunya.
    Seperti yang kita ketahui bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang cepat membuat bosan karena memiliki tingkat kerumitan yang tinggi dan butuh konsentrasi tinggi, dan apabila metode belajar yang dibuat/ disampaikan oleh guru juga kurang menarik jadi cepat menimbulkan kebosanan.
untuk anak anak yang sekolah di sekolah umum/formal juga merasa bosan ketika belajar matematika karena materi yang disampiakan sulit untuk dimengerti apalagi bagi anak anak yang ada di SLB.
ketika menyampaikan pelajaran/materi kepada anak anak di SLB tentu tidak sama dengan anak anak yang bersekolah di sekolah umum/formal karena intelektual yang berbeda.
jika menyampaikan materi kepada anak anak yang ada di SLB materi yang disampaikan harus menarik agar mereka tidak cepat bosan dan untuk menyampaikan materi yang menarik
tentunya membutuhkan suatu media/alat untuk membuat metode pembelajaran yang lebih menarik.

C. Perumusan Masalah
Media Multimedia yang seperti apa yang akan dimanfaatkan untuk membantu pembelajaran matematika di SLB?
Bagaimana cara agar dapat memanfaatkan media tersebut di SLB?

D. TUJUAN
tujuan dari program ini adalah :
1. Membuat sistem pembelajaran matematika yang menarik di SLB
2. membantu guru di SLB menciptakan proses belajar mengajar matematika yang menarik
3. meningkatkan kreativitas anak anak di SLB

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dari program ini adalah menghasilkan sistem pembelajran yang menarik di SLB dan melalui sistem ini dapat
menumbuhkan semangat belajar anak anak yang ada di SLB.
1. menghasilkan sistem belajar matematika yang menarik  di SLB.
2.  agar anak anak SLB punya semangat dalam belajar matematika

F. KEGUNAAN PROGRAM
1. membantu anak anak di SLB dalam belajar matematika
2. membantu guru di SLB dalam menyanmpaikan pelajaran/materi  matematika

Jumat, 12 Oktober 2012

 Nama Kelompok :
:: Ricky Putti Ginting      (562010031)
:: Andrey Irvan                (562010017)
:: Florentina Br Pinem     (562010030)

A. Judul
     Pemanfaatan media multimedia untuk membantu pembelajaran di SLB(sekolah luar biasa)

B. Latar Belakang :
SLB (sekolah luar biasa) adalah salah satu sekolah yang dibuat untuk anak anak yang berkebutuhan khusus. tujuan dari sekolah luar biasa ini adalah untuk membantu anak anak yang menyandang kelainan fisik atau mental agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan,dan keterampilan sebagai pribadi ataupun anggota masyarakat dalam hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau dapat mengikuti pendidikan lanjutan. metode pembelajaran yang digunakan pun tidak jauh beda dengan metode pembelajaran di sekolah umum/ pendidikan formal lainnya.
seperti yang kita ketahui sekolah umum/ pendidikan formal adalah sekolah untuk orang orang yang normal dan metode pembelajaran yang digunakan pun adalah metode yang tentunya dapat diterima oleh siswa nya tapi apabila kurikulum/ metode pembelajaran itu diterapkan di SLB mungkin akan sangat tidak menarik bagi siswa yang ada di SLB terkadang orang yang bersekolah di sekolah umum pun merasakan bosan ketika belajar di kelas karena guru hanya akan menjelaskan di depan kelas dan murid-murid  hanya mendengar tanpa ada media yang bisa dilihat apalagi bagi mereka yang memang berada di SLB metode itu mungkin akan sangat membuat mereka bosan karena hanya mendengarkan. jadi kenapa tidak dimanfaatkan saja media multimedia yang ada sehingga  proses belajar mengajar pun akan semakin menarik dan tidak membosankan. dan murid murid yang ada di SLB pun akan semakin giat untuk belajar dan tidak bolos sekolah, dan dengan menggunakan metode ini murid murid pun mungkin akan semakin mudah untuk mengerti  pelajaran yang disampaikan oleh guru mereka. jadi, dengan memanfaatkan media multimedia di SLB akan sangat banyak membantu baik untuk guru maupun siswa yang ada disana.

C. Perumusan Masalah
     Media Multimedia yang seperti apa yang akan dimanfaatkan untuk membantu pembelajaran di SLB?
    Bagaimana cara agar dapat memanfaatkan media tersebut di SLB?

D. Tujuan
     tujuan dari program ini adalah :
     1. Membuat sistem pembelajaran yang menarik di SLB
     2. membantu guru di SLB menciptakan proses belajar mengajar yang menarik
     3. meningkatkan kreativitas anak anak di SLB

E. Luaran yang Diharapkan
    1. menghasilkan sistem belajar yang menarik  di SLB.
    2.  agar anak anak SLB punya semangat dalam belajar

F. Kegunaan Program
    1. membantu anak anak di SLB dalam pembelajaran di kelas
    2. membantu guru di SLB dalam menyampaikan pelajaran/materi